Ketua IWO INHU Minta Aparat Tegas Tindak PETI, Jembatan Penghubung Dua Kecamatan Terancam Ambruk

Oplus_131072

INHU,RIAU,Autenticnews.co,-

Maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, kini menimbulkan kekhawatiran serius. Tidak hanya merusak lingkungan, praktik ilegal ini juga dikhawatirkan dapat meruntuhkan jembatan penghubung vital yang menghubungkan Kecamatan Kelayang dan Kecamatan Rakit Kulim. Kondisi ini terungkap saat tim media melakukan pengecekan langsung ke lokasi pada Rabu, 10 Juni 2026.

Dari hasil pantauan di lapangan, terlihat jelas dampak buruk yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan liar tersebut. Aliran Sungai Indragiri yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat kini mengalami kerusakan parah. Daerah Aliran Sungai (DAS) Indragiri yang seharusnya terjaga kelestariannya, kini porak-poranda akibat penggalian dan penyedotan material yang dilakukan secara sembarangan. Akibatnya, struktur tanah di sepanjang bantaran sungai menjadi labil dan mudah terkikis oleh arus air.

Kondisi ini secara langsung mengancam keberadaan jembatan penghubung yang menjadi akses utama ribuan warga dari dua kecamatan tersebut. Perubahan alur sungai yang dipaksa oleh aktivitas penambangan, disertai dengan pengikisan tanah di bagian pondasi jembatan, membuat struktur bangunan tersebut semakin rentan roboh. “Selain merusak alam, DAS Indragiri juga dihancurkan secara perlahan. Jika dibiarkan terus, bukan tidak mungkin jembatan ini ambruk dan memutus akses warga. Fasilitas umum yang menjadi tumpuan ribuan jiwa ini kini terancam bahaya nyata,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Di lokasi yang sama, terlihat puluhan rakit penyedot beroperasi setiap hari mengambil material dari dasar sungai. Volume material yang diambil belum dapat dipastikan secara pasti, namun aktivitas yang berlangsung terus-menerus tanpa pengawasan ini diperkirakan telah mengubah topografi dasar sungai secara signifikan. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkan semakin terasa nyata, mulai dari kerusakan lahan pertanian, berkurangnya sumber air bersih, hingga risiko bencana alam seperti banjir dan longsor.

Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan, masyarakat setempat berharap agar Polda Riau segera mengerahkan pasukannya ke lokasi untuk melakukan penindakan tegas. Praktik ilegal ini dinilai tidak dapat dibiarkan merajalela karena telah merugikan kepentingan umum dan mengancam keselamatan banyak orang.

Desakan serupa juga disampaikan oleh Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Indragiri Hulu, Rudi Walker Purba. Dalam pernyataannya, ia meminta Kapolres Indragiri Hulu melalui jajaran Kapolsek Kelayang untuk segera mengambil langkah nyata menertibkan aktivitas penambangan liar tersebut. Ia menegaskan bahwa aktivitas penyedotan pasir dan batu di sepanjang aliran Sungai Indragiri diduga kuat tidak memiliki izin resmi dari instansi berwenang.

“Kami meminta aparat penegak hukum dan instansi lingkungan hidup untuk tidak menutup mata. Bahaya yang mengancam jembatan ini bukan lagi isu semata, melainkan kenyataan yang harus segera ditangani. Jika dibiarkan, kerugian yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dan sulit diperbaiki,” tegas Rudi.

Selain meminta tindakan aparat di lapangan, laporan mengenai kondisi Sungai Indragiri yang semakin rusak juga telah disampaikan secara resmi kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Wilayah Sumatera. Laporan ini disampaikan agar pihak berwenang dapat segera melakukan penelitian mendalam dan merumuskan solusi terbaik untuk memulihkan fungsi sungai tersebut. Sebagaimana diketahui, Sungai Indragiri memiliki peran strategis bagi masyarakat sekitar, baik sebagai sumber air bersih, sarana transportasi, maupun penunjang aktivitas ekonomi sehari-hari.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh tanggapan resmi terkait langkah penanganan yang akan diambil oleh pihak berwenang. Masyarakat dan berbagai elemen masyarakat tetap berharap agar permasalahan ini segera mendapatkan perhatian serius sebelum menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi. (Tim-ANC)