Jalan Simpang Koje Lumpuh Lumpur, IMA Madina Pekanbaru: Stop Pengukuran Seremonial — Warga Butuh Aspal Nyata

Oplus_131072

MANDAILING NATAL,Autenticnews.co,

Kondisi akses utama menuju Desa Simpang Koje hingga Simpang Sordang, Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, kini memprihatinkan. Jalan yang menjadi urat nadi ribuan warga tersebut hancur dan berubah menjadi kubangan lumpur pekat setiap kali hujan turun. Ironisnya, survei dan pengukuran kerap dilakukan, namun pembangunan fisik tak kunjung terealisasi.

Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMA) Madina Pekanbaru pun melayangkan protes keras atas kondisi tersebut. Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan di Pekanbaru, Jumat (23/10/2026), Ketua Umum IMA Madina Pekanbaru, Frendi Hermawan Nasution, menegaskan masyarakat telah jenuh dengan formalitas yang tidak menghasilkan apa-apa.

“Kami lahir dan tumbuh besar di tanah tersebut. Setiap pulang kampung, pemandangannya selalu sama: jalan berlumpur tebal bak kubangan kerbau. Yang membuat kami elus dada, petugas sudah berkali-kali datang bawa meteran, mengukur jalan dari ujung ke ujung. Tapi setelah diukur, mereka pulang, dan aspalnya tidak pernah datang. Kami menegaskan kepada Pemkab Madina: stop pengukuran seremonial! Kami butuh aspal nyata, bukan meteran!” ujar Frendi.

Jalan sepanjang koridor tersebut merupakan jalur vital bagi perekonomian warga. Akibat kerusakan parah, mobilitas petani yang hendak memasarkan hasil bumi terhambat berat. Bahkan anak-anak sekolah pun harus menempuh risiko setiap harinya, dan banyak pengendara mengalami kecelakaan akibat tergelincir di jalan yang berlumpur.

Atas situasi tersebut, IMA Madina Pekanbaru menyampaikan tiga tuntutan mendesak kepada pemerintah daerah:

1. Dinas PUPR Pemkab Madina diminta transparan mengenai hasil-hasil pengukuran yang telah dilakukan dan segera mengalokasikan anggaran konkret untuk pengaspalan jalan, bukan sekadar menjadikannya agenda survei tahunan.

2. Bupati dan DPRD Mandailing Natal diminta turun langsung melihat kondisi warga Lingga Bayu secara objektif dan menghentikan janji-janji politik yang belum terwujud.

3. Pembangunan fisik di lapangan harus segera dimulai, sebelum ketidakpuasan masyarakat semakin meningkat akibat merasa terus-menerus diabaikan.

Frendi juga mengingatkan bahwa jarak perantauan tidak melemahkan kepedulian mereka terhadap kampung halaman.

“Jarak geografis di perantauan Pekanbaru tidak akan mengurangi kedekatan batin kami dengan tanah kelahiran. Jika tuntutan mendasar terkait hak infrastruktur layak ini kembali diabaikan, kami pastikan suara dari Lingga Bayu akan bergulir lebih besar. Kami siap bergerak bersama elemen pemuda dan mahasiswa di daerah untuk menuntut hak masyarakat,” pungkasnya. (Tim-ANC)