Lagi-Lagi Truk Angkutan Sawit Terbalik di Lokasi Proyek Mangkrak Jalan Nasional Simpang Batang–Simpang Kulim

Oplus_131072

ROKANHILIR,Autenticnews.co,-

Kecelakaan lalu lintas kembali terjadi di ruas Jalan Nasional Simpang Batang–Simpang Kulim, tepatnya di perbatasan Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Kali ini, sebuah truk pengangkut kelapa sawit terbalik di tengah jalan yang menjadi lokasi proyek rekonstruksi yang mangkrak. Peristiwa ini merupakan kejadian kecelakaan untuk kesekian kalinya sejak proyek dihentikan, menambah daftar panjang korban di jalan yang dinilai sangat berbahaya tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026, di tengah jalan yang sempit dan berkemiringan tajam itu. Truk yang mengangkut muatan sawit terguling ke pinggir jalan, memblokir sebagian badan jalan dan memicu kemacetan panjang. Berdasarkan laporan warga di tempat kejadian, sejak proyek rekonstruksi terhenti pada Juli 2026 hingga menjelang akhir Agustus 2026, sudah tercatat minimal empat kali peristiwa truk terbalik di lokasi yang sama.

Proyek Rp159 Miliar Mangkrak Sejak Juli 2026

Proyek rekonstruksi Jalan Nasional Simpang Batang–Simpang Kulim ini merupakan kewenangan Kementerian PUPR, Direktorat Jenderal Bina Marga, Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Wilayah Riau, dengan sumber dana APBN dan nilai kontrak mencapai Rp159 miliar. Pekerjaan ini dipercayakan kepada kontraktor PT. Cipta Agro KSO.

Namun, kenyataan di lapangan sangat memprihatinkan. Sejak pertengahan Juli 2026, aktivitas pekerjaan di lokasi proyek tersebut terhenti total dan mangkrak. Tidak terlihat adanya alat berat, tenaga kerja, maupun tanda-tanda kelanjutan pembangunan. Lokasi proyek seakan ditinggalkan begitu saja, sementara jalan yang rusak, menyempit, dan berkemiringan tajam tetap digunakan oleh kendaraan setiap harinya.

Kondisi jalan yang tidak rata, menyempit, serta memiliki kemiringan yang tidak wajar menjadi penyebab utama tingginya angka kecelakaan di lokasi tersebut. Terutama kendaraan besar seperti truk pengangkut sawit yang melintas setiap hari, sangat rentan tergelincir dan terbalik, terlebih saat membawa muatan penuh.

Kementerian PU Dinilai Membiarkan Warga Terancam

Meski peristiwa kecelakaan terus berulang dan bahkan sempat viral di media sosial, hingga saat ini pihak Kementerian PUPR, Dirjen Bina Marga, maupun BPJN Wilayah Riau belum terlihat mengambil langkah konkret apa pun. Tidak ada perbaikan sementara, tidak ada papan peringatan yang memadai, dan tidak ada informasi resmi terkait alasan proyek berhenti maupun kapan akan dilanjutkan.

Warga dan pengguna jalan mempertanyakan komitmen pihak berwenang. Bagaimana mungkin proyek senilai ratusan miliar rupiah dibiarkan mangkrak, sementara jalan yang rusak terus memakan korban dan membahayakan nyawa masyarakat?

“Sudah berkali-kali truk terbalik di sini, kadang ada yang luka-luka, muatan sawit tumpah ke mana-mana. Tapi sampai sekarang tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Jalan makin parah, proyek tidak ada orangnya,” ungkap seorang warga setempat.

Warga Sendiri yang Mengatur Lalu Lintas, Buka-Tutup 24 Jam

Karena ketiadaan pengawasan dan perbaikan dari pihak berwenang, warga setempat akhirnya mengambil inisiatif sendiri demi mencegah kecelakaan yang lebih parah dan kemacetan panjang, terutama pada malam hari. Warga bergilir menjaga jalan tersebut dengan sistem buka-tutup kendaraan, yang beroperasi 24 jam tanpa henti.

“Kami warga yang harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengatur jalan ini, karena tidak ada pihak yang peduli. Kalau kami tidak buka-tutup, pasti macet berjam-jam, dan risiko tabrakan makin besar. Kami melakukannya demi keselamatan bersama,” ujar warga yang berjaga di lokasi.

Desakan Agar Proyek Segera Dilanjutkan atau Dievaluasi

Masyarakat dan pengguna jalan berharap pihak Kementerian PUPR, BPJN Riau, serta instansi terkait segera turun tangan. Ada tiga hal mendesak yang diminta warga:

1. Segera mengaktifkan kembali proyek rekonstruksi yang mangkrak, atau jika ada kendala, segera jelaskan secara transparan kepada publik.

2. Melakukan perbaikan darurat dan pemasangan rambu peringatan yang memadai di titik rawan kecelakaan demi keselamatan pengguna jalan.

3. Mengevaluasi kinerja kontraktor PT. Cipta Agro KSO yang dinilai telah menelantarkan proyek yang dibiayai uang negara.

Jalan Nasional Simpang Batang–Simpang Kulim merupakan jalur vital yang menghubungkan wilayah Bengkalis dan Rokan Hilir, dilewati ribuan kendaraan setiap harinya, terutama truk pengangkut hasil perkebunan. Membiarkan proyek mangkrak dan jalan berbahaya tetap beroperasi tanpa pengawasan sama sekali adalah kelalaian besar yang harus dipertanggungjawabkan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak BPJN Riau maupun kontraktor terkait kelanjutan proyek tersebut. Warga berharap perhatian pihak berwenang segera hadir, sebelum menelan korban jiwa yang lebih banyak.(S.P/ Jup-ANC)